4 Warga Singkil Dianiaya di Perbatasan Aceh–Sumut, Berawal dari Insiden Ternak
Subusallam – 4 Warga Singkil Dianiaya Insiden kekerasan yang menimpa sejumlah warga asal Kampung Lae Balno, Aceh Singkil kembali menyita perhatian publik setelah empat orang mengalami penganiayaan serius di wilayah Desa Saragih, Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Peristiwa ini terjadi pada Senin sore, 8 Desember 2025, sekitar pukul 17.00–18.15 WIB, di kawasan perbatasan Aceh–Sumut yang selama ini dikenal sebagai jalur sosial dan ekonomi bagi warga lintas provinsi.
Pemicu Awal Konflik: Dugaan Penembakan Sapi
Kasus bermula dari dugaan penembakan sapi (lembu) milik warga setempat. Insiden tersebut memunculkan ketegangan antara pemilik ternak dengan pihak yang diduga terlibat. Untuk meredakan konflik, Kepala Kampung Lae Balno, Munawir S. Tumangger, serta tokoh pemuda setempat, Sufriadi, berupaya mengadakan mediasi dengan terduga pelaku dan keluarga mereka.
Namun upaya damai itu justru berubah tragis. Saat pertemuan mediasi berlangsung di kediaman pihak terduga pelaku, suasana cepat memanas dan berubah menjadi aksi pengeroyokan terhadap Munawir dan Sufriadi. Serangan itu menyebabkan keduanya mengalami luka serius, terutama Sufriadi yang dilaporkan dalam kondisi kritis dan masih dirawat di rumah sakit di Medan.
Selain kedua tokoh tersebut, dua warga lainnya dari Lae Balno juga menjadi korban kekerasan dalam insiden yang sama, sehingga total empat warga Singkil terluka dalam kejadian ini. Identitas lengkap korban lainnya belum sepenuhnya dipublikasikan, namun menurut laporan awal, mereka turut menjadi bagian dari rombongan mediasi saat kejadian.
Baca Juga: Refleksi Peringatan Hari HAM Sedunia Menumbuhkan Solidaritas dan Aksi Kemanusiaan
4 Warga Singkil Dianiaya Proses Hukum dan Tuntutan Warga
Namun hingga beberapa hari setelah laporan dibuat, belum ada satu pun pelaku yang diamankan. Hal ini memicu kekecewaan luas dari warga Lae Balno, yang mendesak aparat penegak hukum untuk segera bertindak tegas.
Kekecewaan tersebut semakin memuncak karena beberapa warga menilai proses penyelidikan berjalan lamban.
Potensi Dampak Sosial di Wilayah Perbatasan
Wilayah tersebut selama ini dikenal rawan ketegangan karena mobilitas tinggi warga lintas kabupaten dan adat budaya yang berbeda.











