2 Kubu Keraton Solo Tetap Lestarikan Tradisi Malam Selikuran dengan Lampu Ting dan Tumpeng Sewu
Subusallam – 2 Kubu Keraton Solo Tradisi Malam Selikuran kembali digelar meriah di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat pada malam ke-21 bulan Ramadan. Meski Keraton Solo kini memiliki dua kubu yang berjalan masing-masing, keduanya tetap melaksanakan tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Prosesi Malam Selikuran dikenal sebagai simbol menyambut datangnya malam-malam istimewa di sepuluh hari terakhir Ramadan. Dalam perayaan ini, masyarakat dan abdi dalem keraton membawa lampu ting—lentera tradisional khas keraton—yang dinyalakan sepanjang arak-arakan.
Selain lampu ting, prosesi juga dimeriahkan dengan tumpeng sewu atau seribu tumpeng yang dibagikan kepada masyarakat. Tumpeng tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa agar masyarakat mendapatkan berkah pada malam Lailatul Qadar.
Kedua kubu keraton menggelar acara secara terpisah dengan rute dan susunan prosesi masing-masing. Meski demikian, masyarakat tetap antusias menyaksikan tradisi yang sarat nilai spiritual dan budaya ini.
Warga Solo menilai tradisi Malam Selikuran merupakan bagian penting dari identitas budaya kota. Oleh karena itu, perbedaan di internal keraton tidak mengurangi semangat masyarakat untuk ikut serta dalam ritual tahunan tersebut.
Bagi masyarakat, Malam Selikuran bukan sekadar acara budaya, melainkan juga momen mempererat hubungan antara keraton dan rakyat.
Tradisi Malam Selikuran Tetap Berlangsung Meski Keraton Solo Terbelah Dua
Tradisi Malam Selikuran kembali digelar di Kota Solo dengan nuansa khidmat dan meriah. Tahun ini, perayaan tersebut dilaksanakan oleh dua kubu yang berada di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Malam Selikuran merupakan tradisi keraton yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Prosesi ini biasanya digelar untuk menyambut malam ke-21 Ramadan yang diyakini sebagai awal dari sepuluh malam terakhir yang penuh keberkahan.
Arak-arakan Malam Selikuran identik dengan lampu ting, yakni lentera khas yang dibawa oleh para abdi dalem dan peserta kirab. Cahaya lampu tersebut melambangkan penerangan spiritual bagi umat yang menjalankan ibadah di bulan suci.
Selain itu, terdapat pula tumpeng sewu, yaitu hidangan tumpeng dalam jumlah banyak yang dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah dan simbol kemakmuran.
Meski digelar terpisah oleh dua kubu keraton, masyarakat tetap memadati area sekitar keraton untuk menyaksikan prosesi tersebut. Banyak warga yang menganggap tradisi ini sebagai bagian penting dari sejarah dan budaya Solo.
Kehadiran ribuan warga dalam perayaan Malam Selikuran menjadi bukti bahwa nilai budaya keraton masih kuat di tengah masyarakat.
Artikel 3
Ribuan Warga Ikuti Tradisi Malam Selikuran Keraton Solo
Ribuan warga memadati kawasan sekitar Keraton Surakarta Hadiningrat untuk mengikuti tradisi Malam Selikuran yang digelar pada Ramadan tahun ini.
Tradisi ini menjadi salah satu agenda budaya yang paling ditunggu masyarakat Solo setiap tahunnya. Prosesi Malam Selikuran biasanya dimulai dengan kirab yang diikuti para abdi dalem, keluarga keraton, serta masyarakat umum.
Para peserta kirab membawa lampu ting, lentera tradisional yang menjadi ciri khas perayaan tersebut. Lampu-lampu yang menyala menciptakan suasana sakral sekaligus meriah di sepanjang rute kirab.
Selain kirab lampu, tradisi ini juga menghadirkan tumpeng sewu, yakni ratusan hingga ribuan tumpeng yang kemudian dibagikan kepada warga. Pembagian makanan tersebut melambangkan rasa syukur dan harapan akan keberkahan.
Menariknya, tradisi tahun ini dilaksanakan oleh dua kubu keraton secara terpisah. Namun hal itu tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk menghadiri acara tersebut.
Bagi warga Solo, Malam Selikuran bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga bagian dari kehidupan spiritual yang telah melekat sejak lama.
Lampu Ting Terangi Malam Selikuran di Keraton Solo
Malam Selikuran kembali menyinari Kota Solo dengan cahaya lampu ting yang dibawa dalam kirab tradisional dari lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Tradisi ini merupakan salah satu ritual penting yang dilaksanakan pada malam ke-21 Ramadan. Dalam prosesi tersebut, para abdi dalem mengenakan pakaian adat lengkap sambil membawa lentera tradisional.
Lampu ting yang dibawa dalam arak-arakan dipercaya melambangkan cahaya petunjuk bagi umat manusia. Sementara itu, tumpeng sewu yang disiapkan dalam jumlah besar menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan.
Pada tahun ini, tradisi Malam Selikuran dilaksanakan oleh dua kubu keraton yang berbeda. Masing-masing kubu menggelar acara dengan prosesi dan rute yang berbeda.
Meski demikian, suasana tetap berlangsung khidmat dan penuh semangat. Warga Solo berbondong-bondong menyaksikan kirab yang menjadi salah satu warisan budaya penting kota tersebut.











